Usagi Sailor Moon - Link Select

Senin, 08 Juli 2013

Dandelion Terakhir Arya.



-cerita dinda tentang arya-

Aku jatuh cinta dengannya sejak upacara penerimaan siswa baru 2 tahun lalu.
Arya di kenal sebagai pangeran pembantai siswi perempuan.
Tapi yang hebatnya dia tetap mendapat gelar siswa terpopuler selama 2 tahun berturut-turut.
Setiap pagi, ada ratusan surat berjejal di kantung depan lokernya.
Jangankan untuk menyentuh, bahkan untuk melihatnya saja dia enggan.
Tidak ada yang pernah benar-benar bisa berbicara dengannya kecuali aku dan elisa.
Aku berpacaran dengannya belum lama ini. Satu tahun lalu aku sedang menangis dan berlari ke belakang sekolah.
Dibelakang sekolah ada banyak bukit dan berjajar dandhelion indah kesukaanku.
Aku melihat seseorang duduk di bawah pohon dan mengambil beberapa gambar kelinci peliharaan penjaga sekolah dan juga dandhelion-dandhelion indah itu.
Aku kaget dan berteriak.
"arya...!!" dia menoleh, kelinci kelinci, bukit, rerumputan, dan dandhelion itu seolah menoleh-juga.
Dia lalu berdiri dan menghampiriku.
"kamu.... Suka dandelion?"
"kamu yang ajarin aku tentang bagaimana mencintai dandelion, din. Eh.. Bisa tolong menyimpan rahasia ini dari teman-teman?"
"apa maksudnya belajar dari aku?"
"aku tau kamu suka dandhelion. Dan aku menyukai wanita yang menyukai dandelion itu."
"maksud kamu?"
"maksudnya aku menyukaimu. Sudah lama aku punya niat untuk bilang ini. Tapi alfan selalu saja berada lebih dekat denganmu."
aku masih ternganga mendengar ucapan arya.
"boleh kalo kita pacaran?"
"ha? Pacaran?"
"iya pacaran. Atau kamu memangada something dengan alfan?"
"enggak kok. Aku menyukaimu sejak upacara penerimaan siswa 2 tahun lalu."
dia tersenyum manis sambil menarik lembut rambutku.
"pernyataan cinta yang bagus. Jadi mulai sekarang kita pacaran ya."
Dia menepuk-nepuk kepalaku lalu berjalan pergi.
"din... Din... Dinda... Ngapain sih? Ngelamun mulu dari tadi."
"ah.. Eh.. Maaf el, aku nggak denger kamu manggil aku."
"makanya, nggak usah mikirin alfan terus."
"elisa. Berisik banget sih. Dia nggak mungkin mikirin alfan. Pacarnya itu kan aku." aku tersenyum geli. Arya menatapku dan tersenyum sambil menaruh dandhelion diatas jemariku.
"tapi faktanya dia sayang banget sama alfan."
lalu arya dengan sigap menutupi mulut elisa sambil berkata, "ngomong lagi aku bunuh lo."
lalu kami tertawa dengan riang.
Sejak pacaran denganku, arya nggak pernah bersikap dingin lagi dengan siapapun. Dan juga dia selalu membaca surat yang setiap pagi memenuhi kantung depan lokernya.
Aku ingat waktu itu dia pernah menemaniku hingga awan-awan menghitam di dalam lab biologi.
Aku menaruh secangkir kopi yang sudah habis ku teguk ke atas meja. Itu buatan arya. Dia menungguku sampai terlelap melakukan observasi terhadap lumut. Setelah selesai, aku membuka jas putihku dan memasukkan ke dalam loker, lalu mematikan semua lampu, ac, juga komputer. Perlahan aku menyentuh dan mengelus-elus pipinya dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "hey.. Sayang bangun."
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum sumringah.
"love you." aku tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"love you to arya. Always."
kami lalu meninggalkan lab. Aku menggenggam erat tangannya. Betapa bersyukurnya aku dapat mencintainya seperti ini.
Dan...
Waktu itulah semua terjadi...


-cerita arya tentang dinda-

Apa kalian tau dandelion?
Bunga rapuh yang akan gugur ketika angin dengan sembarang meniupkan dahaganya.?
Seperti itulah diriku.
Aku menyukai dandelion. Begitu menyukainya karena dia tampak seperti aku. Aku tidak tau harus bertahan dengan cara apa sampai aku tau bahwa wanita yang aku cintai juga menyukai dandhelion. Sejak saat itu aku punya kekuatan untuk bertahan lebih lama lagi. Dinda mengajariku banyak hal. Atau sebut saja dia mengajariku segala hal.
Dia mengajariku bagaimana caranya menghargai waktu.
Bagaimana caranya hidup bahagia dengan membahagiakan orang lain.
"aku cinta kamu banget, din." kataku usai pelajaran olahraga. Waktu itu dia dan elisa sedang membersihkan wajah.
"jijik banget sih dengernya." elisa menggerutu kesal.
Dinda menoleh sambil tersenyum.
"aku juga cinta sama kamu."
"iya aku tau. Tapi rasa cintaku lebih besar."
"enggak. Cintaku yang lebih besar."
"aku." "aku."
"stop it.! Aku hampir muntah." ucap elisa sambil menarik tanganku dan tangan dinda menuju kelas. Aku dan dinda tersenyum geli ketika elisa berkata, "bisa tidak satu jam saja tidak bilang. "love you dinda. Lebay banget."
aku tersenyum.
"akan terasa begitu berbeda ketika kamu ingin mendengar itu dan aku tidak bisa mengucapkannya lagi, elisa." aku lalu berjalan dan berdiri di samping dinda. Mengambil handuk di pundakku dan menyeka air yang bercucuran di wajahnya. Dia tersenyum manis sekali menggenggam tanganku erat sambil mencium pipiku hangat.
"love u arya." elisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku dan dinda tak pernah melewati waktu berdua tanpa mengucapkan "aku cinta kamu."
aku bukan tipe pria yang suka mengumbar-umbar perasaan cinta. Tapi waktu aku sadar bahwa waktu nggak akan selamanya berpihak ke hidupku. Aku baru menyadari bahwa mengucapkannya lebih baik dari pada terus menerus menyimpannya.
Dan......
Waktu itu tiba-tiba saja terjadi....


-cerita elisa-

Aku sudah cukup lama mengenal dinda dan arya.
Terkadang aku bosan mutlak mendengar kata cinta dari mulut mereka. Dimana pun dinda berada, arya nggak henti-henti menelfonnya walau hanya sekadar mengingatkan, "jangan lupa makan ya sayang."
Aku terkadang merasa iri. Dan ketika semua terjadi, aku baru sadar. Arya adalah cowok romantis yang nggak bisa di gantiin dengan siapapun di hati dinda. Aku beruntung menjadi saksi hidup perjalanan cinta mereka yang singkat.
Waktu itulah semuanya terjadi.
Arya memprotes bu andra habis-habisan.
"yah, bu. Gimana sih? Yang pacarnya dinda kan saya. Tapi kenapa yang jadi partner dinda malah alfan.?"
"arya.. Apa elisa tak cukup baik untuk menjadi rekan kamu?"
"bukan masalah baik atau enggak nya, bu. Tapi kenapa semua sesuai pasangannya masing-masing dan saya enggak? Ibu nggak adil nih."
"arya cukup! Saya tau yang terbaik untuk siswa saya."
bu andra itu mama nya arya. Semua orang tau hal itu. Arya berjalan keluar meninggalkan bu andra.
"arya duduk!"
dia tak menghiraukan ucapan bu andra.
"kamu lihat kan dinda? Dia nggak pantas untuk kamu.!" aku menoleh kearah dinda yang tersentak kaget. Bu andra nggak pernah mencampuri urusannya dengan arya selama ini.
Kenapa tiba-tiba saja dia bertanya hal itu.
"maaf soal arya, bu. Izinkanlah dia menjadi partner saya." kata dinda pelan.
"maaf dinda saya tidak bisa.! Dia harus terbiasa hidup ada atau tanpa kamu."
bu andra lalu meninggalkan kelas.
"ada apa sebenarnya, din?" tanyaku.
"aku juga nggak tau, el."
Saat bel istirahat berbunyi, aku dan dinda bermaksud untuk menemui bu andra. Tapi ternyata ada arya di dalam ruangannya. Samar-samar aku dan dinda mendengar mereka bertengkar.
"tolong arya dengar mama sekali ini saja mendengar bukan sebagai guru kamu, tapi dengar sebagai orang tua kamu."
"aku nggak bisa pisah gitu aja sama dinda, ma."
aku kaget, lalu memegang tangan dinda.
"tapi pikirkan kesehatan kamu.!"
"nggak ada yang lebih penting dibandingkan dengan dinda. Aku nggak peduli dapat bertahan hidup sebulan 2 bulan atau bahkan sehari pun aku cuma mau bersamanya."
dinda memandangku dan bertanya melalui alis matanya yang bergerak-gerak, aku hanya mengangkat bahu tak mengerti.
"ketahui bahwa dia akan sangat terluka kalau saja..."
"mama cukup.! Aku nggak mau dengar apapun lagi."
dinda menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Apa maksudnya bertahan hidup? Kata-kata arya bergaung keras di kepala dinda.
Besoknya, aku mendapat kabar bahwa arya masuk rumah sakit.
"dinda... Arya .. Sekarang arya di rawat di rumah sakit." Dinda tampak terkejut dengan berita yang ku bawa ini.


-gundukan bernisan-
*dinda*

Gerimis sendu menghantar kepergiannya. Aku masih begitu terpukul atas kejadian ini.
Aku menaruh seratus dandhelion diatas gundukan bernisan itu.
Elisa memelukku dari belakang.
"sudah ya din. Ayo kita pulang. Udah maghrib."
aku menoleh ke arah elisa lalu memalingkan pandangan ke arah bu andra. Bu andra menyodorkan sebuah kaset dvd bercover dandelion.
"itu punya arya yang dia buat dua tahun lalu."
aku menunduk mengucapkan terima kasih. Lalu elisa memapahku masuk ke dalam mobil. Hari ini dan untuk waktu yang cukup lama elisa akan menemaniku.
Sesampainya dirumah aku segera berlari ke dalam kamar. Aku lalu menghidupkan dvd dan segera memutar kaset pemberian bu andra. Elisa duduk di sebelahku sambil memelukku erat.
Tak berapa lama kemudian muncul wajah arya di tivi.
Air mataku kembali bercucuran.
"nanti saja nontonnya ya, din." aku menggeleng.
Lalu terdengar arya sedang berdehem-dehem.
"ehem... Hai dinda. Halo?! Hm... Aku lebih grogi berhadapan dengan kamera ketimbang menatap wajah kamu langsung. Habisnya kameranya jelek. Cantikan kamu." aku tersenyum sambil menangis.
"gimana wajahku di tipi? Masih cakep nggak? Hehehe" aku tergelak.
"langsung aja ya. Maaf sebelumnya aku nggak pernah cerita tentang penyakitku dan malah membuat kamu menderita." aku memeluk elisa sambil menggigit bibirku.
"terima kasih buat semuanya din. Karena mencintai kamu, aku jadi mengerti bahwa hidup terlalu singkat untuk kita lewati setiap detiknya. Aku nggak tau kenapa tuhan memberiku umur yang begitu singkat dan nggak bisa menjagamu."
aku menggeleng-geleng tersenyum sambil menangis juga.
"tetaplah tersenyum. Jaga dandelion-dandelion kita ya sayang.?! Aku mencintaimu selalu. Perasaan ini pun akan ku bawa mati. Karena tuhan tak ijinkanku mencintaimu dari dekat, maka aku akan mencintaimu dari jauh. Awas!! Jangan genit-genit sama cowok. Terutama alfan. Jauhi dia. Say no to Alfan. Ha ha ha ha ha."
selesai. Aku memeluk elisa lebih erat lagi.
"aku sayang banget sama dia, el."
"iya aku tau. Ikhlaskan ya dinda. Aku tau kamu bisa." aku mengangguk pelan dan tersenyum.
Ya. Aku bisa melewati ini.



Konsep terbaru..Gimana menurut kalian??


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Waaah, lumayan mengharukan nih...

Kalau boleh saran, paragraf2nya dipisah2 dong. Biarpun satu paragraf cuma terdiri dari satu kalimat. Agak capek baca baris2 bergerombol gitu :p

*kemzora* mengatakan...

Maaf ya.. Baru ngebaca komentnya..
Sebeleumnya makasih banget.. :)

Insyaallah lain kali nggak di buat bergerombol. :D

Posting Komentar