Hal yang paling sulit dilalui adalah saat-saat dimana keimanan kita diuji.
Seberapa lama kita akan tetap Istiqomah Bertahan dijalanNya.
Aku tidak tau harus memulai ceritanya dari mana. Bercerita dari kesesakan hidup yang mana dulu. Hidupku ini terlalu rumit untuk orang lain pahami. Begini saja, Ibuku meninggal enam tahun yang lalu.
Aku berfikir, jika kepergian Ibu adalah untuk yang terbaik, kenapa hingga saat ini pun aku masih belum merasa baik. Kemarin Ayah memutuskan untuk menikah lagi, setelah kegagalan pernikahannya yang dia jalin setelah ibu meninggal.
Mereka menyalahkanku atas gagalnya pernikahan Ayah dengan Istrinya. Aku jadi ingat satu kejadian waktu Ayah masih bersama Wanita itu. Itu terjadi begitu saja ketika aku terbangun melihat Wanita itu tengah ada dikamarku sambil memegang sekeranjang penuh pakaian kotor.
"Cuci sendiri pakaianmu. Aku membayar bu Yuli bukan untuk mencuci pakaianmu, tapi untuk mencuci pakaianku dan suamiku."
Aku tersentak kaget mendengar ucapannya yang memekakan telinga. Dia lalu mencampakkan sekeranjang penuh pakaian kotor ke mukaku. Aku masih terpelongo Ketika dia segera lenyap. Dari seberang kamar aku mendengar adikku sedang menangis tersedu sedan. Aku mengutipi satu persatu pakaianku lalu membawanya, berjalan menghampiri Dini -adikku.
"ada apa?"
tanyaku. Dia tengah duduk di atas tempat tidurnya.
"Dini dituduh ngambil uang ibu"
"jangan sebut dia Ibu, karena dia bukan Ibu kita. Mengerti Dini?"
"Jadi, dia itu siapa kita, kak?"
Aku tersenyum, "nenek lampir kali. hahaha" Dini tergelak masih sambil terisak.
"udah jangan nangis lagi, mandi sana. Ayah mana?" Dia berlari menghampiriku.
"udah pergi subuh tadi.''' Aku menggenggam tangan Dini dan berjalan ke kamar mandi. Menaruh setumpuk pakaian kotor ke dalam mesin cuci, sampai tiba-tiba Nenek Lampir itu datang dan Membentakku.
"Kamu kira bayar listrik nggak pake uang. Cuci pake tangan"
Aku menghela nafas, mengambil lagi pakaianku yang sudah ku taruh di dalam mesin cuci. Air mataku sudah berjatuhan sejak tadi. Wanita itu benar-benar seperti Nenek Lampir, aku sampai lupa bahwa dia manusia. Tiba-tiba aku merasa geli, hingga tertawa terbahak-bahak. Dini menoleh dan berkata, "kenapa kakak?" Aku memeluk Dini erat sekali waktu itu. "Dini, kalau wanita itu nenek lampir, kenapa bisa nikah sama Ayah ya? hahahaha" Aku tau persis Dini sama sekali tidak mengerti apa yang aku katakan. Waktu itu usianya masih lima tahun. Berjarak begitu jauh dariku. Sebelum Ibu sakit, kami mengadopsi seorang anak dari Wanita Pekerja seks yang memiliki begitu banyak anak. Dini adalah satu-satunya alasan untuk aku masih bertahan sejauh ini tanpa Ibu. Setelah selesai mencuci, aku membereskan barang-barang. Aku memutuskan untuk tinggal bersama Mbah Timah. Mbah timah adalah Kakak ayah yang terdekat dari rumah kami.
Aku lebih baik tinggal dengannya saja dulu untuk beberapa minggu.

