Usagi Sailor Moon - Link Select

Sabtu, 27 Juli 2013

Eka Gustiwana, Jeremy Teti & Arya Wiguna

Kerennn...!!!

:D

Ketika masa lalu datang kembali





Semalam hujan, aku menengok ulang kotak masuk. Biasanya kamu akan langsung mengirimiku pesan. Ngomel-ngomel tentang hujan.
Tapi tidak ada pesan masuk. Tidak ada yang bertambah sejak Dua tahun lalu. Juga tidak ada yang berkurang.
Aku masih menyimpan sederet pesanmu walau hanya tertulis “oh”. Bahkan jika hanya Smiley. Yang membuatku hampir mati kesal karena kamu begitu cuek.
Tidak memakai tanda baca di setiap pesanmu. Meninggalkan bercak-bercak kopi di naskahmu. Membuang puntung rokokmu di sembarang tempat. Mencium kedua mataku ketika aku hendak tidur.
Sekarang, Aku mulai merindukan hal-hal yang tidak ku suka dulu.
Pagi kembali hadir. Tidak ada hujan hari ini. Aku tetap bangun meski enggan. Karena pagi berarti kamu. Untuk kamu. Aku bangun dan mencintaimu sekali lagi.
Aku sengaja melalui jalan kita. Berharap mendapati bayanganmu disana.
Dan Aku menemukanmu. Atau hati ini yang menemukanmu.
Kamu berdiri di bawah Samanea saman –favorit kita, dulu. Ketika kamu tau aku hadir, kamu tersenyum lembut. Seperti dengan sengaja menungguku.
Sudah lama sekali semenjak terakhir kamu memutuskan untuk meninggalkanku di bawah Samanea saman ini aku tidak pernah lagi mendengar suaramu. Menikmati senyummu. Mencium aroma tubuhmu. Merasakan bahwa kamu benar-benar masih ada.
“Aku menunggumu. Lama sekali..!”  Dia memulai pembicaraan.
Bahkan dia kehilangan sopan santunnya sekarang. Dia tidak tahu betapa aku tersiksa menunggunya selama ini. Berusaha meyakinkan hatiku bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dia akan kembali.
“Gimana kuliahnya? Kamu gemukan ya sekarang. Hebat banget.”
Aku masih berdiri ketika dia menghempaskan tubuhnya dan bersandar.
“Kamu pernah ngerasain dejavu, bie?”
“Nggak.”
Dia menarik tanganku, memaksa menatap matanya.
“Nggak capek berdiri? Disebelahku masih ada tempat.”
“Aku baru saja merasakannya.” Ku hempaskan tubuhku di sampingnya. Seperti yang selalu aku lakukan, dulu.
“Monda, Deja vu itu kan sensasi yang salah pada ingatan atau memori. Ingatan kamu sedang bermasalah?”
“Bukan Cuma ingatan, hati juga. Semua bermasalah sejak kamu pergi.”
Hening beberapa saat. Bnar-benar tidak ada pembicaraan. Hingga Mentari semakin tidak bisa menahan malu. Perlahan beranjak pergi. Seketika mendung menyelimuti.
“Sekarang baru kerasa” Katanya pelan, menjatuhkan dahinya di pundakku.
“Apa..?” “Dejavu..”
Aku tersentak kaget.
Abie menjatuhkan pelah dahinya kepundakku sambil meramas hangat jemariku. Aku kedinginan waktu itu.
Aku menoleh kearahnya hingga mata kami benar-benar bertemu.
“Dulu aku juga pernah begini, kan? Waktu kita pulang basah-basah, kamu sampe menggigil kedinginan, nggak taunya disini sama sekali nggak ujan. Inget?”
“Tuh kan, ingatan kamu juga bermasalah.”
“hehe. . Iya. Kejadiannya udah lama banget ya.”
Aku terdiam. Masih berfikir keras harus melontarkan kata-kata yang bagaimana. Dari bagian perasaan luka yang mana dulu. Lalu aku terhenyak. Begini saja sudah cukup. Tidak perlu mengingat masa lalu.
Jadi yang berhasil keluar dari bibirku hanya seperti ini. “Ada apa datang kesini?”
Dia mengangkat kepalanya, menaruh kedua tangannya di pipiku.
“Monda. Ini bukan tempat pribadi kamu, kan? Jadi aku boleh main kesini kapan aja aku mau.”
Aku tak menunjukkan ekspresi apapun. Semua datar meski jantungku berdebar seperti mau gila. Dia tertunduk, menarik nafas dan menatapku dalam-dalam.
“Monda. Aku tau ini salah. Menemuimu lagi setelah luka yang aku buat. Tapi… selama Dua tahun ini, sedetikpun aku tidak pernah berhenti memikirkanmu.”
Aku terhenyak sekali lagi, nyaris tak bisa menopang tubuhku sendiri.
“Semalam pagi hujan. Tiba-tiba aku merindukanmu. Makanya sekarang aku kembali ke tempat ini. Dan ternyata kamu ada. Apa ini yang namanya Takdir?”
“Kamu nggak tau apa-apa tentang sesak yang ku rasa selama dua tahun ini, Bie.! Setiap malam aku selalu mengecek henfon berharap ada pesan darimu. Memastikan kamu masih ingat aku.” And finally, air mataku jatuh juga.
“Aku sadar betul aku salah. Tapi ini yang ku alami. Waktu mengubah wajah dan usiaku, tapi tidak dengan ingatan. Kamu masih disana, mungkin akan disana selamanya.”
“Aku menyadari satu hal. Ruang sudah cukup diisi dengan ‘kita’ saja. Tidak pernah ada tempat untuk yang lain. Meski banyak wajah yang sudah mengisi. Tapi perasaanku masih tetap sama. Masih untukmu, Monda. Itu yang membawaku kembali ke tempat ini. Kembali kepadamu.”
Aku menghambur kepeluknya. Seharusnya memang begitu.
Segalanya bisa berubah. Jalan, gedung, pohon, orang-orang di sekitarmu. Tapi  perubahan yang terjadi diluar, tidak pernah membawa perubahan di dalam hati kita. Sesuatu yang belum terselesaikan suatu saat nanti pasti akan datang kembali menuntut penuntasan. Dan hari ini, akhirnya untuk tahun-tahun penantian yang sudah ku lewati tanpanya. Lalu dia hadir kembali. Kami mengecap kisah lama, menikmati sensasinya. Lalu akan menciptakan yang baru.