Usagi Sailor Moon - Link Select

Selasa, 15 Mei 2012

bebe :*

Di usiaku yang beranjak hampir tujuhbelas tahun, tuhan menghadiahiku hadiah terindah dan terbaik yang pernah ada dalam sejarah hidupku dan siapapun. Hadiah yang limited edition atau bahkan mungkin hanya satu-satunya didunia. Hadiah itu adalah seorang sahabat yang nyaris sempurna di mataku. Bagiku dia lah yang terbaik yang pernah ku punya. Setiap kali pagi hadir kembali, sambil membuka jendela ku bisikkan pada embun-embun bahwa aku bersyukur kepada tuhan telah mengirimnya untukku. Setiap kali aku bernafas tak pernah sekalipun bosan merapalnya dalam doa-doaku, berusaha mengetuk hati tuhan supaya berbaik hati membuat dia, aku dan hari-hari yang akan kami jalani nanti membahagiakan. Setiap kali melihatnya tersenyum dan memandangku, hanya satu yang ku ingat dalam hati ini. Aku begitu menyayanginya. Aku selalu berharap bahwa kami akan baik-baik saja sampai semua impian-impian yang telah kami hayalkan bersama akan menjadi kenyataan.
Tapi, tuhan mengubah segalanya.
Mengubah jalan cerita yang telah kami ciptakan bersama. Tuhan mengubah setiap detik kebahagiaan menjadi kesengsaraan yang tak berujung. Mengubah semuanya menjadi penyesalan yg begitu mendalam kenapa dulu aku tak membuatnya akan mengingat satu hal saja dari kami yang begitu indah sehingga dia tak melupakan segalanya seperti ini.
Sore itu kami sedang bermain sambung kata. Dan saat itulah semuanya terjadi.
Katanya, "aku suka yaki."
"ha..? Apa?"
"aku suka yaki."
"yaki? Kenapa tiba2 suka yaki.?"
"sambung. Kalo yaki, akhirannya kan ki. Jadi apa?"
"kenapa tiba-tiba...."
"udah sambung aja."
"ki ya? Kirimochi, deh."
"chi? Hem... Chikuwa?"
"wanko soba!"
"banana?!"
"na? Hem... Nappa?!"
"pasta!"
"tabasco?"
"ko? Ko... Ko... Koala?"
"widya, koala tuh bukan makanan!"
"Pasti bisa dimakan! Aku yakin koala dimakan di Australia!"
"koala kan binatang yang dilindungi, wid. Bisa gawat kalau dimakan."
"pokoknya koala itu dimakan."
"nggak mau ngalah." kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu saat aku menyeruput jus advokat yang menurutnya menjijikkan itu, dia terhuyung kelantai. Semula ku kira dia hanya bercanda. Kami terlalu sering melakukannya. Berpura-pura pingsan, berpura-pura menangis hingga menangis beneran.
"ntar bajunya kotor, wid. Cepet bangkit ah."
tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Kemudian aku merasa ada yang aneh. Dia tidak bergerak sama sekali. Aku mulai panik sambil berteriak-teriak memanggil siapapun yang mendengarku.



***



aku menunggunya sadar di depan pintu ruang UGD. Semua orang menunggunya harap-harap cemas. Setelah dokter keluar dan menyampaikan bhwa dia baik-baik saja dan membawanya keruang rawat. Aku terduduk memegangi tangannya. Berharap dia sadar dan segera memelukku agar aku tau bahwa dia masih baik-baik saja.
Tangannya bergerak dan matanya juga bergerak-gerak, pertanda bahwa dia sudah sadar. Aku tersenyum kegirangan memeluknya erat. Tapi sekejap aku merasa aneh. Dia tidak bereaksi. Dia tidak balik memelukku dan juga tersenyum.
Dia bahkan menatapku heran.
Lalu segalanya berubah ketika dia terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi, termasuk orang yang tadinya dia bilang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Orang itu adalah aku. Dia melupakanku dan hari-hari yang telah kami lalui bersama. Ini terlalu sulit untuk ku lalui.
"wid.."
"siapa??" katanya pelan.
"apanya yang siapa?" tanyaku heran, tak percaya, kecewa, sedih, syok. Segala macam bentuk terangkum jadi satu.
"kamu. Kamu siapa?" katanya sambil menunjuk kearahku.
"wid. Kenapa sih? Sudah cukup bercandanya. Jangan bercanda lagi." kataku. Air mataku mulai berjatuhan.
"bisa beritahu aku siapa kamu? Nama kamu? Apa yang sebenarnya sudah terjadi."
aku terperangah, menatapnya heran. Kemudian ayahnya dan dokter menghampiri dan menarik tanganku.
"widya mengalami amnesia akut. Mungkin dia tidak akan bisa mengingat semuanya lagi. Kami belum tahu jelas apa penyebabnya. Tapi pasti akan kami cari tahu segera." aku terduduk, tak mampu suarakan apapun.
Tak hendak mempercayai bahwa dia melupakanku.
"apa om. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dokter bilang dia melupakan semuanya om? Tolong jelaskan."
"berdirilah." kata ayahnya sambil menarik tubuhku agar berdiri.
"dulu sewaktu kecil widya sering mengalami benturan-benturan keras kata ayahnya. Kemungkinan besar, amnesia yang dialaminya karena hal itu." dokter menjelaskan panjang lebar. Tapi semua itu diluar kendali otakku. Kejadian itu kan sudah bertahun-tahun yang lalu, itu sudah lama sekali. Aku mencoba menguatkan diriku untuk menghampirinya.
"tidak bisakah kau ingat saja padaku.? Tolong jangan siksa aku seperti ini, wid."
air mataku tak mampu lagi untuk lebih lama di bendung, tertunduk kecewa. Tiba-tiba saja dia menyentuh tanganku dan berkata, "kamu harus memberitahuku apa yang terjadi agar aku bisa mengingatmu."
aku mengangkat kepalaku menatap lurus ke matanya. Sulit sekali rasanya untuk mempercayai semuanya.
"kata dokter, kamu amnesia. Biar kujelaskan ya." kataku masih sambil terisak.
"nama kamu widya. Yang berdiri disana itu ayahmu. Dan aku, aku purnama. Kita sahabat, dulu... sebelum kamu melupakan semuanya."




***




Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Ku lirik arloji cokelat pemberiannya waktu itu, pukul 06.00 wib. Rupanya aku sempat tertidur selama beberapa jam setelah semalaman menceritakan semua padanya. Ku lihat dia masih begitu terlelap. Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menyiapkan air hangat kalau-kalau dia hendak mandi nanti. Dalam langkahku diam-diam ku bisikkan dala do'aku agar seluruh elemen-elemen yang ada di alam semesta ini, berkonspirasi membantuku membuatnya mengingat semua yang kata dokter itu nggak mungkin.
Setelah beberapa menit aku kembali menemuinya.
Di luar hujan deras sekali, ayahnya masih tertidur di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur rumah sakit ini.
"diluar hujan. Mau mandi air hangat?" tanyaku saat aku mendapatinya sudah bangun dari tidur lelapnya.
Dia melihatku dgn tatapan asing yang tak pernah ku tau.
Ingin sekali rasanya berteriak, tapi aku hanya mampu terdiam sambil memukul-mukul dadaku kesal.
"nanti saja." katanya sambil membelakangiku.
"kalau minum??"
"aku nggak haus. Pergilah berjalan2 di koridor. Kamu membutuhkan itu." dia menarik selimut tanda tak ingin di ganggu.
Aku menaruh handuk di samping bantalnya lalu berjalan keluar.
Perlahan memutar handel pintu lalu terduduk dan bersandar di depan pintu rumah sakit ini. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah segera enyah dari sini. Aku tidak suka bau rumah sakit.
Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi, dia mengintip dari balik pintu. Diam-diam mendengar aku menangis dan tanpa sepengetahuanku, dia juga menangis.




***



"ini rumah kamu wid." kataku masih sambil memapahnya keluar dari mobil. Dia tersenyum memandangku, seperti yang sering dia lakukan.
Hari ini dokter memperbolehkan dia pulang dan menikmati udara segar. Kata dokter aku boleh mengajaknya ketempat-tempat yang tidak asing di ingatannya.
Dengan begitu ada sekitar 15 % kemungkinan dia akan kembali mengingat. Akan aku usahakan, 10, 15, atau tidak ada kemungkinan sekalipun tetap akan ku coba membuatnya mengingatku.
"hm... Purnama...." panggilnya. Ini pertama kali dia menyebut namaku semenjak dia kehilangan ingatannya. Aku menangis terharu dan berlari memeluknya.
"kau tau wid,, lebih baik kau marahi saja aku. Bentak-bentak saja dari pada aku harus menerima kenyataan bahwa kau melupakanku."
dia menepuk2 pundakku pelan sambil memelukku. Tangisku semakin pecah dipelukannya.
"sebelum aku hilang ingatan, katamu kita sahabat kan? Dan semenjak beberapa hari setelah aku kehilangan ingatanku aku mulai berfikir bhwa kau memang sahabatku. Hatiku miris setiap kali mendapatimu menangis sepanjang malam dia samping tempat tidur rumah sakit itu."
"kau tau?"
"tentu saja aku tau. Aku bhkan sedetikpun tak mampu tidur karena suara tangismu yang berisik." aku tertawa hopeles.
 "dengar ya. Walaupun dokter bilang nggak mungkin aku mengingat semuanya, aku akan.
Karena ingatanku ini sangat penting untukmu. Aku akan mencoba berusaha mengingatnya. Mengerti?"
aku mengangguk sambil berkata, "iya wid. Aku mengerti."
Aku menengadah ke atas langit. Ada secercah harapan baru disudut-sudut awan putih disana.
Aku tersenyum sambil mengucapkan syukur. Meskipun dia tidak bisa mengingatku.
Setidaknya dia masih bisa seperti dulu. Akan kami bangun lagi hubungan persahabatan ini karena aku begitu menyayanginya.





 
bebe selamanya akan bersama.. sengaja mendedikasikan ini untuknya.. sayang dia selamanya.. :*

kemimor & koizora



 
NEW YEAR

Di kelas IPA 5 tercinta,,
bersama sahabat tercinta..



sayang dia .. :*




selamanya cuma dia,,
satu-satunya..



kebersamaan ini takkan pernah berakhir,,







menuju jalan kebahagiaan..







tertawa bahagia bersama..