Ehem.. Ehem..
Canggung rasanya menyapamu Kemzora ku..
Hari ini entah bagaimana cara mengungkapkannya..
Mungkin..... Pertama-tama ucapan Selamat ulang tahun dulu teruntuk kamu Elang Biruku.
Untuk kamu yang masih selalu ku rindukan.
Apa kabar hari ini, Lang?
Sudah balik ke Semarang ya? Melakukan rutinitas seperti biasa. Meninggalkanku lagi untuk yang entah keberapa kali.
Yang kedua, mari kita awali dari teman akrabku, Rasa sakit.
Aku bukan salah pilih orang untuk menggantikanmu Elang, hanya cinta hadir di hati yang tidak tepat. Tumbuh di hati yang tidak memiliki rasa. Tidak ada yang salah. Tolong jangan menghawatirkanku.
Aku hanya sedang menunggu kepastian dari mulutnya.
Akan lebih baik jika semuanya UDAH.
Karena aku nggak punya hati lagi untuk mencintainya.
Kenapa ya kegelapan masa lalu kembali lagi, Lang?
Di fase yang itu itu juga. Dengan peristiwa yang SAMA..!!
Kamu belum mengikhlaskanku, ya?
Kamu belum melepasku seperti aku melepasmu.. Kamu mau aku tetap di jalan itu, menunggumu kembali dengan tangan menggenggam yang lain?
Kamu mau aku merasakan sakit yang itu itu lagi ya?
Entah la.....
Rasanya hatiku tidak tau berbentuk seperti apa, Lang.
Aku sakit, Terluka, Pedih, MErindu. Tapi tidak bisa maju selangkahpun
Senin, 19 Agustus 2013
Till The Time Comes
“Kamu percaya aku kan, La? Kamu percaya waktu akan mempertemukan kita lagi.?”
“Percaya aja nggak cukup kan, Lang?” Suaraku nyaris bergetar.
“You must. Even not enaugh.”
“Tapi,Lang.
kamu akan pergi sejauh setengah lingkar planet ini. Kita udah nggak
berada di zona waktu yang sama. Mungkin juga kita nggak menghirup okigen
dengan kadar yang sama. Kita nggak bisa saling telfonan, smsan, apapun
itu.!”
“Aku sayang kamu. Bahkan jika nanti kata-kata udah habis
semua. Aku tetap mencintai kamu. Untuk pagi yang tidak bisa kita lewati
berdua. Untuk malam-malam yang akan aku lalui sendiri. Aku akan tetap
mencintaimu.”
“Langit…”
“Pasti
akan ada saat jarak lelah memisahkan kita. Kita pasti akan bertemu
lagi. Dan berada di zona waktu yang sama, sayang. Trust me.”
Lama tidak ada dialog. Aku berusaha menahan tangis dengan tangan masih menggenggam gagang telepon.
Kamu, “La......”
Lalu kamu teriak. “Keyla…! Kalo aku lagi ngomongdi dengerin dong. Hoby banget hening cipta!”
“Iya, Langit. Aku dengerin kamu, kok.”
“Jadi ini terakhir….”
“Ehh sayang.. kamu udah ngantuk belum?”
Aku memburunya dengan pertanyaan.
Konyol.
Itu hanya karena aku tidak ingin lagi mendengar kalimat romantis apapun yang mungkin akan dia ucapkan.
Itu hanya akan menyisakan tangis yang lebih mendalam lagi.
“Udah.!”Kamu menjawab dengan nada kesal.
“Lang,aku tiba-tiba pengen minum wedang ronde.”
Atau aku tiba-tiba kangen tempat pertama kita bertemu Langit, sambil menikmati semangkuk wedang ronde.
Jika untuk beberapa tahun kedepan aku hanya bisa menikmatinya lewat memory kita. Jadi izinkanlah aku menikmatinya untuk yang terakhir sebelum kita berpisah.
“Terus..??”
“Aku……”
Aku memberi jeda lama untuk satu kataitu. Memaksa Langit mengerti apa yang sedang ku rasakan sekarang.
“Aku jemput. Kita ke alun-Alun sekarang.”
kamu menutup telepon tanpa permisi.
Aku tersenyum. Betapapun jauh jarak memisahkan kita. Aku cukup percaya, ketika waktunya tiba nanti, kamu akankembali ke sisiku lagi.
Dan kita akan bersama mengunjungi alun-alun, berjalan bersama dan menikmati semangkuk wedang ronde hangat -lagi.
*355 Kata*

